Setiap bulan Desember, tepatnya pada tanggal 20 Desember, berbagai komponen bangsa Indonesia memperingati sebuah hari penting. Hari itu adalah Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. Apalagi, bangsa Indonesia telah dikenal luas di dunia internasional karena semangat gotong royong. Kerja bhakti, bakti sosial, kerja sama tanpa pamrih dalam kehidupan sehari-hari jamak dilakukan masyarakat Indonesia.

Dalam berbagai kunjungan yang saya lakukan ke berbagai desa di Kabupaten Grobogan, gotong royong masih banyak dijumpai dalam aktivitas harian masyarakat, terutama yang sedang punya hajat atau punya gawe. Saling membantu dan saling mendukung kerja tetangga, kerabat, dan keluarga adalah hal biasa bagi masyarakat kita. jadi, tidak heran jika sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih tinggal di desa yang nyaman, jauh dari kebisingan kota. Kewirausahaan dan kesetiakawanan sosial mempunyai kaitan erat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kegiatan wirausaha terkait erat dengan aktivitas manusia sebagai makhluk sosial.

Mungkin kita belum memahami apa itu kewirausahaan. Ada baiknya kita memahami pengertian wirausaha atau kewirausahaan. Berikut ini saya sampaikan beberapa definisi wirausaha, wirausahawan dan kewirausahaan menurut beberapa tokoh yang berkompeten. Secara etimologi, wira artinya utama, gagah, luhur, berani dan teladan. Swa artinya sendiri, sta artinya berdiri. Sementara swasta berarti berdiri di atas kaki sendiri atau berdiri di atas kemampuan sendiri (Mukhaer Pakkana, 2005). Menurut Say, wirausahaan berarti memindahkan berbagai sumber ekonomi dari suatu wilayah dengan produktivitas rendah ke wilayah dengan produktivitas tinggi dan hasil yang lebih besar. Dengan kata lain, ujar David Osborne dan Ted Gaebler dalam Reinventing Government, seorang entrepreneur (wirausahawan) menggunakan sumber daya dengan cara baru untuk memaksimalkan produktivitas dan efektivitas.

Peter Drucker mengatakan, wirausaha adalah risk taker (pengambil resiko). Hampir setiap orang bisa menjadi wirausaha, asalkan organisasinya disusun untuk mendorong kewirausahaan. kewirausahaan selalu berhubungan dengan kreativitas (sesuatu yang baru) dan inovasi (sesuatu yang berbeda) untuk menciptakan kesejahteraan dan nilai bagi masyarakat (Kao, 1995). Kewirausahaan adalah pilihan untuk menjadi manusia berani, tahan uji yang kreatif dan inovatif. Sikap mental para pejuang rakyat. Pejuang bangsa. Pejuang agama. Kewirausahaan merupakan jalan baru. Jalan yang disadari sepenuhnya sebagai pilihan yang bermakna luhur, pilihan membangun bangsa dan umat, pilihan mensyukuri nikmat Allah. Pilihan (ber) ibadah. (M. Faisal Badroen, 2005).

Kewirausahaan adalah kemapuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang dan menuju sukses. Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang (Suryana:1-4). Wirausahawan adalah orang yang terjun dalam bisnis yang mempunyai semangat dan keberanian untuk menerapkan ide-ide baru menjadi kenyataan, berani mengambil resiko usaha karena melihat kemungkinan adanya keuntungan monopolistik jika usahanya berhasil dan mempunyai semangat serta keinginan untuk mengalahkan saingan-saingan mereka melalui ide-ide baru (Tarsito, 2005).

Peningkatan Wirausaha

Jumlah wirausaha di Indonesia masih jauh dari ideal. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar (sebagaimana dikutip dari detikcom) berharap, ada penambahan 4,18 juta wirausaha di dalam negeri. “Kita masih butuh tambahan sekitar 4,18 juta wirausaha, sehingga target ideal jumlah wirausaha 4,75 juta dapat tercapai dalam waktu tidak terlalu lama,” kata Muhaimin di sela acara Gerakan Penanggulangan Pengangguran Nasional Tahun 2013 dan Pencanangan Gerakan Perempuan Mandiri di Negeri Sendiri di The Sun Hotel, Sidoarjo, Jawa Timur pada Sabtu (30/11). Jumlah wirausaha di Indonesia saat ini sekitar 570.339 orang atau sekitar 0,24% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237,64 juta orang. Katanya, untuk menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, jika jumlah wirausahanya minimal 2 persen dari total jumlah penduduk.

Menteri asal Jombang yang biasa disapa Cak Imin mengatakan, Kemenakertrans memiliki program unggulan yang dikembangkan dalam pembinaan kewirausahaan meliputi, pelatihan usaha mandiri, pelatihan teknis dan manajerial tenaga kerja, padat karya produktif, pemagangan, teknologi tepat guna dan pendampingan serta pelatihan lainnya yang disesuaikan dengan minat, bakat dan potensi masyarakat. “Pola pengembangan yang dibidik adalah pembentukan desa industri kreatif dan kerajinan. Serta desa perdagangan dan jasa,” terangnya sambil menambahkan, penduduknya akan didorong untuk menjadi wirausahawan sukses.

Data dari Kemenakertrans saat ini terdapat 13 BLK unit pelaksana teknis pusat (UPTP) milik Kemenakertrans dan 252 BLK UPTD milik provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia. Sebanyak 3.132 orang instruktur yang bekerja di balai-balai latihan kerja (BLK), bertugas mendidik dan mendampingi para calon wirausaha mandiri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. “Kita berharap semua jenis pelatihan yang dikembangkan oleh pemerintah, swasta maupun lembaga pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas wirausaha di Indonesia,” ujar Muhaimin.

Peranan/Fungsi Wirausaha

Menurut Schumpeter (1934) dalam Suryana, fungsi pengusaha bukan pencipta atau penemu kombinasi. Kombinasi baru (kecuali kalau kebetulan) tetapi lebih merupakan pelaksana dari kombinasi-kombinasi kreatif. Inti dari fungsi pengusaha adalah pengenalan dan pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang perekonomian. Kemungkinan-kemungkinan baru yang dimaksudkan oleh Schumpeter adalah: memperkenalkan barang baru, melaksanakan metode produksi baru, membuka pasar baru, membuka bahan atau sumber-sumber baru, dan pelaksanaan organisasi baru.

Sedangkan menurut Tarsito (2005), fungsi wirausahawan adalah sebagai penemu dengan kemampuan inovatif dan kreatifnya, wirausahawan menemukan dan menciptakan produk baru, teknologi baru, ide baru dan organisasi baru. Juga sebagai perencana, wirausahawan berperan merancang usaha baru, merencanakan strategi baru, menciptakan organisasi baru dan merencanakan ide-ide serta peluang usaha.

Menurut Geoffrey G. Meredith dalam Suryana (2003:8), ciri-ciri dan watak kewirausahaan adalah: Percaya diri dan memiliki keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas dan optimisme; Berorientasi pada tugas dan hasil, kebutuhan untuk berprestasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, enerjik, dan inisiatif; Pengambilan resiko, kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan; Kepemimpinan, perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lainmenanggapi saran-saran dan kritik; Keorisinilan, inovatif, kreatif serta fleksibel, berorientasi ke masa depan, perspektif.

Seorang wirausahawan selalu memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas-tugasnya sampai berhasil dan tuntas. Karenanya dapat dipastikan wirausaha selalu tekun, ulet, pantang menyerah sebelum dapat menyelesaikan pekerjaannya. Juga selalu penuh perhitungan, tidak spekulatif yang belum diketahui besarnya resiko. Resiko yang diambil tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah.

Keberanian mengambil resiko dengan komitmen yang tinggi membuatnya selalu berjuang mencari peluang sampai berhasil. Hasil-hasil itu harus nyata sehingga dapat dijadikan umpan balik bagi usahanya. Dan selalu optimis atas hasil-hasil tersebut, pengelolaannya pun secara proaktif. Kepribadian wirausaha terletak pada: kepercayaan diri, kemampuan mengorganisir, kreativitas, dan suka tantangan.

Seorang wirausahawan yang berhasil memiliki ciri-ciri tersendiri, menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess dalam Suryana (2003:10) CIRINYA ADALAH: memiliki visi dan tujuan usaha yang jelas; bersedia menanggung resiko, waktu dan uang; berencana mengorganisir; kerja keras sesuai tingkat urgensinya; mengembangkan hubungan dengan pelanggan, pemasok, pekerja, dll; bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan. Setidaknya ada beberapa alasan seseorang berminat berwirausaha, yaitu alasan keuangan, alasan sosial, alasan pelayanan dan alasan memenuhi kebutuhan diri. Beberapa peluang yang dapat diambil dari kewirausahaan menurut Zimmerer adalah: peluang memperoleh kontrol atas kemampuan diri; peluang untuk memenuhi proteksi diri secara penuh; peluang untuk memperoleh manfaat secara finansial; peluang untuk berkontribusi kepada masyarakat dan untuk menghargai usaha-usaha seseorang.

Sedangkan menurut Ustadz Samsul Arifin, untuk menjadi sukses dalam bidang apa pun , termasuk bisnis, seseorang harus mampu menangkal munculnya kata-kata bervirus. Baik kata-kata itu datangnya dari eksternal maupun diri sendiri. Tanpa mampu menangkalnya, seseorang tidak mungkin sukses. Berbahayanya kata-kata bervirus sesungguhnya sudah diingatkan Allah dalam Al Qur’an di antaranya pada surah An Nas. Dalam surah itu Allah mengingatkan manusia untuk menjauhkan diri dari bisikan menyesatkan, baik yang datang dari sesama manusia atau pun setan.

Misalnya ketika akan membuka usaha, yang lain bilang: ah mana bisa. Atau, apa kamu punya modal. Saingan sangat berat, mana mungkin berhasil. Tak jarang kata-kata bervirus itu datang dari diri sendiri. Akhirnya seseorang menjadi ragu dan gagallah rencana membuka bisnis. Banyak orang, khususnya umat Islam yang salah memahami ayat Al Qur’an atau pun hadis Nabi. Seolah sukses itu hanya milik orang-orang tertentu, yakni orang berbakat, punya modal besar, dan sudah ditakdirkan untuk sukses. Padahal dalam ayat lain disebutkan, Allah akan membuat kehidupan seseorang sesuai dengan usaha yang dilakukan. Jika dia bekerja dengan sungguh-sungguh dan didukung tekad yang kuat, maka sukseslah dia. (Suara Merdeka, 25/1/2008).

Sedangkan Prof Dr Susilo Wibowo (kini mantan Rektor Undip Semarang)juga meminta lembaga pendidikan Islam memperkuat pendidikan kewiraswastaan. Sejak pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, kewiraswastaan harus jadi materi kurikulum. Itu tak bisa ditawar-tawar lagi untuk membangun masa depan bangsa yang sejahtera. Prof Susilo mengatakan negara yang memperkuat pendidikan kewiraswastaan mampu mengatasi problem pengangguran. Kini India, Turki, dan China memberikan pendidikan ketrampilan atau kewiraswastaan. Di India, antara 80% dan 90% anak muda mengikuti pendidikan kejuruan. Jadi pengangguran teratasi dengan baik. “Bahkan pendidikan kejuruan telah diarahkan memasuki persaingan global,”katanya.

Di China, ujar dia, pendidikan kejuruan diarahkan ke pekerjaan berteknologi tinggi dalam berproduksi. Hasilnya nyata. Kini, China mulai menguasai pasar dunia di bidang automotif, elektronik, satelit, rudal, dll. Mereka menekankan pendidikan dasar dan kejuruan lebih penting dari pada universitas. Sementara itu, penemuan di bidang teknologi didorong di perguruan tinggi. Dia menuturkan sebenarnya jiwa wiraswasta telah melekat pada pribadi umat Islam. Agama Islam tersebar luas sampai ke Indonesia dibawa para pedagang yang punya etos usaha tinggi. Nabi Muhammad pun dulu pedagang. Untuk membangkitkan jiwa kewiraswastaan di kalangan muda, lembaga pendidikan Islam harus memperkuat kurikulum dengan materi pendidikan kejuruan. Karena itu, ujar dia, tak hanya para guru, ulama dan da’i pun harus mendorong jamaah merevitalisasi etos berwirausaha.

Tentunya kita juga berharap semoga kita sukses berwirausaha dan mampu meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial.

Oleh : Sukarno

Go to top