Bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia yang diperingati setiap tanggal 10 Desember, sebagaimana dalam judul tulisan ini saya mencoba membuat judul yang bermaksud unagkapan kalimat tanya atau bertujuan mempertanyakan kembali esensi sebuah Hak Asasi Manusia dalam ruang lingkup HAM sebagai hak setiap manusia yang melekat seumur hidup.   Sebelum tulisan ini membahas secara jauh tentang HAM, terlebih dahulu hakekat dari pada HAM. Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya.

Sedangkan pada pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, menyebutkan bahwa Hak Asasi Manusia merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Dari beberapa pengertian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa HAM bukanlah sesuatu yang dianugerahkan oleh seorang raja atau lembaga legislatif yang kemudian mereka dapat menariknya kembali dengan cara yang sama.

Tetapi pada kenyataanya, perjalanan sejarah terbentunya gagasan-gagasan pemikiran tentang HAM adalah adanya konsep yang berasal dari Piagam Besar atau yang disebut Magna Carta yaitu Piagam Inggris pada tahun 1215 yang membatasi kekuasaan Monarki Inggris, terutama Raja John, dari kekuasaan absolut. Magna Carta adalah hasil dari ketidaksetujuan antara Paus dan Raja John dan baronnya atas hak raja: Magna Carta mengharuskan raja untuk membatalkan beberapa hak dan menghargai beberapa prosedur legal, dan untuk menerima bahwa keinginan raja dapat dibatasi oleh hukum. Selain itu keberadaan HAM sering dijadikan tameng untuk berdalih mengibarkan slogan pembebasan, demokratisasi, dan penegakan HAM oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang telah menginvasi negara-negara yangberpenduduk mayoritas muslim seperti Afganistan dan Irak.

Selanjutnya perhatian dunia tentang HAM semakin mendapat tempat, sehingga pada pertengahan abad ke-20, tepatnya pada Desember 1948 – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian mendeklarasikan Universal Declaration of Human Rights (UDHC) atau Deklarasi Universal HAM. Tetapi kritik masyarakat dunia mengecam tindakan yang berdalih pembebasan, demokrasi dan penegakan HAM, karena tindakan tersebut sungguh sangat berbeda dengan prinsip HAM yang diajarkan Islam. Barat kerap kali menegakkan HAM dengan cara menyerang dan membunuh sesama manusia lain yang tak berdosa.

Sedangkan di Indonesia sendiri keberadaan HAM berawal pada era reformasi karena atas desakan masyarakat yang kuat, sehingga ketentuan tentang HAM mendapatkan perhatian yang serius sebagaimana telah berhasil dikeluarkan Ketetapan MPR tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yakni TAP MPR No.XVII/MPR/1998. Setahun kemudian, untuk menindaklanjuti TAP tersebut telah dikeluarkan Undang undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Tetapi pada kenyataan, implementasi tentang HAM di Indonesia masih jauh dari kenyataan yang terkait dengan hakekat HAM sebagaimana tersebut diatas. Contoh pelanggaran HAM yang tidak ada ujung penyelesaiannya seperti kasus Tanjung priok, Dom Aceh, Pembebasan Timur-Timur, Demo Mahasiswa 27 Juli 1998 dan lain sebagainya.

Dari berbagai tinjauan tersebut diatas, salah satu tinjauan untuk pembuktian atasa jawaban       ” benarkah HAM merupakan hak setiap manusia yang melekat seumur hidup ” telah lebih dahulu diajarkan dalam agama Islam, karena Islam adalah agama yang menghormati dan menghargai HAM. Jauh sebelum Barat melalui agen HAM-nya berkoar-koar mengenai hak perempuan, 14 abad lalu Islam telah mengajarkan kepada seluruh umat manusia untuk menghargai dan menghormati seorang wanita. Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, ”Siapa yang paling berhak untuk aku hormati, ya Rasul? Rasullullah menjawab: ”Ibumu!” Lelaki itu turut kembali bertanya: ”Lalu siapa lagi?” Baginda menjawab ”ibumu”. Lalu siapa lagi? ”Ibumu,” jawabnya. Lalu siapa lagi? ”Bapakmu.

Contoh lainnya yang ditunjukkan Rasulullah SAW dalam menegakkan HAM adalah ketika pada tahun ke-9 hijriah, kaum muslimin berhasil membebaskan kawasan yang dihuni kaum Yahudi Bani Najran. Setelah itu, Rasulullah langsung membuat traktat yang ditandatangani secara bersama dengan para pemuka Bani Najran. Pada butir-butir traktat yang dibuat itu, Nabi Muhammad SAW dengan lapang dada mengakui hak warga Yahudi Bani Najran untuk mengamalkan keyakinannya. Bahkan, keamanan dan penjagaan atas harta benda milik warga Najran juga menjadi tanggung jawab kaum muslimin.

Situasi yang sama terjadi setelah terbentuknya pemerintahan Islami di Madinah. Rasulullah saat itu langsung memulai proses penyusunan undang-undang dan peraturan dengan dasar nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam. Di dalam naskah berbagai undang-undang yang dibuat itu, tercantum sejumlah kalimat yang secara jelas merupakan pernyataan pembelaan terhadap HAM. Dikatakan bahwa Islam mengakui hak hidup bagi seluruh umat manusia. Islam pun mengajarkan kepada umatnya untuk menghargai kehidupan. ”Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS: Al-Maaidah ayat 32).

Konsep Islam mengenai kehidupan manusia didasarkan pada pendekatan teosentris (theocentries) atau yang menempatkan Allah melalui ketentuan syariatnya sebagai tolak ukur tentang baik buruk tatanan kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakjat atau warga bangsa. Dengan demikian konsep Islam tentang HAM berpijak pada ajaran tauhid. Konsep tauhid mengandung ide persamaan dan persaudaraan manusia. Konsep tauhid juga mencakup ide persamaan dan persatuan semua makhluk. Islam datang secara inheren membawa ajaran tentang HAM, ajaran islam tentang HAM dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadits yang merupakan sumber ajaran normatif.

Dari beberapa contoh tersebut terbukti bahwa ajaran Islam sebagai agama telah menempatkan manusia sebagai makhluk terhormat dan mulia. Oleh karena itu, perlindungan dan penghormatan terhadap manusia merupakan tuntutan ajaran itu sendiri yang wajib dilaksanakan oleh umatnya terhadap sesama manusia tanpa terkecuali. Hak-hak yang diberikan Allah itu bersifat permanent, kekal dan abadi, tidak boleh dirubah atau dimodifikasi. Berdasarkan beberapa uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan tentang ajaran Islam yang berkaitan dengan hakikat HAM antara lain HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis, HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa dan HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. ( Disarikan dari berbagai sumber ).***

oleh Lamijan

Go to top