Kepemimpinan merupakan kajian yang sangat menarik dan penting, dimana dari waktu ke waktu kita akan dihadapkan dengan isu kepemimpinan, baik dalam skala kecil seperti memilih pemimpin keluarga, dalam skala sedang memilih pemimpin di tingkat desa maupun dalam skala global memilih presiden dan wakilrakyat. Kepemimpinan juga menjadi semakin penting dibahas disebabkan dalam kehidupan ini akan berkaitan dengan pemimpin yang ada baik pemimpin rumah tangga maupun pemimpin pemerintahan, terlebih lagi pemimpin memiliki otoritas untuk melakukan / memutusakan sesuatu maupun untuk tidak melakukan / memutuskan sesuatu yang berkaitan degan kepentingan orang banyak.

      Hampir setiap hari acara dan berita di media massa maupun di jagongan warung makan membicarakan para pemimpin kita yang saat ini begitu ramai dengan isu isu positif seperti terobosan / inovasi kepala daerah maupun isu-isu negatif seperti kasus hukum yang menjerat para pejabat negara ini. Menjelang Pemilu 2014 banyak orang ramai ramai ingin menjadi pemimpin. Agar mereka yang mencalonkan diri menjadi pemimpin mendapat simpati pemilih maka mereka melakukan banyak cara. Baik cara yang benar benar baik maupun cara cara yang seakan akan baik bahkan cara cara yang benar-benar kotor.

Bila kita bercermin dari proses pemilihan para pemimpin sebelumnya kita dapat melihat banyak warga masyarakat yang kecewa dengan pilihan mereka sendiri, terlebih lagi bagi pemilih yang pilihannya tidak jadi, mereka semakin kecewa dengan pemimpin yang ada. Sehingga tidak heran kita dihadapkan pada krisis kepemimpinan. Untuk memahami lebih cermat tentang “ anggapan “ negara ini mengalami kegagalan dalam proses pemilihan dan penunjukan para pemimpin di negeri ini. Anggapan “ kegagalan “ dalam memilih pemimpin ini dapat dilihat dari beberapa asumsi :

  1. a.Pemimpin tersebut tidak memili darah / keturunan ( Bibit ) seorang pemimpin. Kepemimpinan itu oleh sebagian banyak orang dianggap sebagai sebuah potensi turunan yang diturunkan oleh pendahulunya sebagaimana pepatah “ buah jatuh tidakakan jauh dari pohonnya “. Dimana pemimpin dengan level 1.0 adalah pemimpin yang memiliki keturunan seorang pemimpin dianggap memiliki DNA pemimpin dengan kontribusi 30 % mempengaruhi kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin. Pada saat ini semakin sulit mengetahui garis keturunan para pemimpin yang menjadi pejabat negara, dimana bisa jadi ada seorang penguasa yang menjadi “ penjahat “ yang dimungkinkan disebabkan memang orang itu keturunan penjahat. Namun teori ini dijaman modern semakin tidak relewan sebab akses pendidikan semakin terbuka berbeda dengan jaman dahulu kala pendidikan hanya dimiliki aksesnya oleh para “ Priyayi “. Kisah kerajaan berdarah “ singgosari “ dari keturunan ken arok menjadi pelajaran ini. Disisi lain kisah kesuksesan kerajaan majapahit keturunan raden wijaya juga menjadi catatan ini.
  2. b.Pemimpin tersebut tidak memiliki riwayat memimpin dan tidak pernah belajar secara formal dalam hal kepemimpinan. Pemimpin yang lahir tiba tiba dan tidak memiliki pengalaman dan pendidikan kepemimpin yang memadahi maka kualifikasinya masih dipertanyakan. Pada saat ini dalam kepemimpinan tidak dilakukan proses secara berjenjang dan terarah sehingga banyak pemimpin yang mengecewakan. kepemimpinan yang diproses melalui penjenjangan dan pendidikan masuk dalam kategori kepemimpinan dalam level 2.0. Kepemimpinan dengan level 2.0 ini memberikan kontribusi 33 % baagi keberhasilan seseorang menjadipemimpin. Namun teori ini juga masih mengandung kelemahan dimana dalam kenyataannya banyak sekali pemimpin yang bermasalah dengan hukum dan masuk penjara adalah mereka yang sebagian besar memiliki kedudukan dan tittle. Dan tidak menjamin pula seseorang yang berpengalaman di bidang hukum dan memiliki tittle hukum akan taat hukum dan berani menegakan hukum. Kisah keberhasilan kepemimpinan dalam tubuh angakat bersenjata menjadi catatan keberhasilan kepemimpinan ini.
  3. c.Pemimpin tersebut dalam dirinya tidak ada sifat / karakter / atribut seorang pemimpin. Meskipun memiliki keturunan pemimpin dan memiliki pengalaman memipin dan memiliki pedidikan / title namun bila dalam dirinya tidak ada sifat/atribut seorang pemimpin maka pasti dia tidak mampu menjalankan kepemimpinannya dengan baik. Sebagai contoh pemimpin yang “ bajang “ tidak matang menjadi pemimpin adalah “ raja boneka “ di kerajaan mataran masa penjajahan yang banyak praharaa dimana pemimpin yang ada tidak memiliki atribut/sifat/karakter seorang pemimpin. Kalau di era ini bisa di cari sendiri dari berita berita di TV.

Saat ini mulai banyak muncul inovasi dalam merekrut seorang pemimpin dengan menggunakan “ Lelang “ jabatan berdasarkan kompetensi dan kompetisi yang mengarah kepada kemampuan/ kepemilikan atribut seorang pemimpin, “ lelang jababatan “ bukan siapa yang berani bayar paling tinggi. Berbagai pujian diberikan kepada Gubernur DKI “ Jokowi “ yang berani melakukan cara dan gaya baru dalam kepemimpinan. Bila menyandingkan methode “ Fit and Proper tes “ dengan konsep kepemimpinan dengan level 3.0 atau kepemimpinan tanpa jabatan dan title ( Lead Without tittle ), namun kepemimpinan berdasarakan kepemilikan atribut seorang pemimpin.

Berikut ini maka akan kami sajikan sebuah kajian konsep kepemimpinan yang diambil dari sebuah buku “The Leader Who Had No Title” karya Robin Sharma, dan konsep kepemimpianan oleh Hermawan Kertajaya “ Leaders Without Titles ( Semua Orang Bisa Jadi Pemimpin) ” . para pakar HRD ini memberikan gambaran 6 atribut seseorang yang layak dan pantas disebut pemimpin meskipun dia tidak memiliki gelar dan jabatan, berikut ini ke enam atribut yang apabila orang tersebut memiliki 6 atribut tersebut maka dia pantas disebut pemimpin dan bila seseorang tidak memiliki 6 atribut itu maka meskipun dia punya jabatan sesungguhnya dia tidak layak memimpin, berikut ini ke 6 atribut tersebut :

1. PHYSICALITY

Aspek fisik adalah sesuatu yang akan dilihat pertama kali oleh orang. Artinya, ini pula yang akan menjadi penilaian pertama mereka terhadap kita. Seseorang yang memiliki penampilan fisik prima akan memancarkan kharisma kepada orang di sekitarnya.

2. INTELLECTUALITY

Pemimpin haru cerdas. Empat hal intelektualitas sebagai seorang pemimpin; pertama, memiliki wawasan dan penguasaan fakta yang luas; kedua, berfikir secara logis dan sistematis; ketiga, mengembangkan berfikir kreatif dan out-of-the box; keempat, kemampuan merumuskan ide menjadi suatu yang praktis dan aplikatif.

3. SOCIABILITY

Kemampuan seorang pemimpin dalam berhubungan dengan orang lain. Seorang pemimpin harus gaul agar pengaruhnya bisa nyebar kemana-mana. Ada 4(empat) hal; pertama, memberikan perhatian penuh kepada siapa lawan komunikasi kita; kedua, kemampuan dalam memberikan respon kepada lawan bicara; ketiga, berupaya untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain; keempat, membangun jaringan seluas mungkin.

4. EMOTIONALITY

Kenapa faktor emosi sangat penting? Ya karena seringkali seorang bertindak tidak hanya sekedar hanya pertimbangan nalar. Ada 4(empat) hal yang penting; pertama, belajar untuk mengenali emosi diri sendiri dan juga emosi orang lain; kedua, kemampuan dalam mengekspresikan emosi secara tepat situasi; ketiga, belajar untuk bisa mengelola emosi orang lain melalui kemampuan persuasi; keempat, berusaha bisa mengendalikan emosi diri dalam merespon situasi.

5. PERAONABILITY

Seseorang yang berusaha menjadi lebih baik. Ada 4(empat) hal yang harus diperhatikan; pertama, bersikap terbuka trhadap hal-hal baru yang sifatnya positif; kedua, memikirkan setiap tindakan yang diperbuat; ketiga, berani mengakui kesalahan jika memang kita penyebabnya; keempat, bisa memotivasi diri dan senantiasa memperbaiki kekurangan diri.

6. MORAL ABILITY

Aspek moral merupakan hal yang sangat penting dari kelima aspek diatas. Ada 4(empat) hal yang harus diperhatikan; pertama, mau bertanggung jawab atas semua keputusan yang dibuat; kedua, berpegang terhadap prinsip kebenaran yang diyakini; ketiga, keberanian dalam menjalankan prinsip; keempat, membiasakan diri mau berbagi dan memikirkan orang lain.

Untuk mengukur kemampuan seseorang apakah memiliki 6 atribut ini maka bisa diadakan penelitian mendalam dengan mengunakan beberapa panduan pertanyaan / quisioner. Selaian mengunakan pengamatan dan pengajuan pertanyaan maka dapat dilakukan dengan mengundang pakat Human Resaurces Development. Sebagaimana calon sekda juga telah didalami kapasitasnya dengan mengunakan kegiatan tes Need assement Centre.

Bila seseorang telah memiliki kondisi fisik yang sehat dan menaraik, kecerdasan yang memadahi, mampu bersosialisasi dengan baik, dapat menguasai dan mengelola emosi diri, dapat menjadi sesuatu menjadi lebih baik lagi dan memiliki moral dan etika yang baik maka berarti orang ini adalah pemimpin dan semestinya pihak pihak yang berwenang memilih dan atau menunjuk seseorang menjadi pemimpin wajib memilih pribadi yang demikian bila menghendaki negeri ini semakin banyak muncul pemimpin yang baik. Namun bila menghendaki negeri ini makin rusak maka pilihlah seseorang seenaknya saja mana yang menguntungkan untuk perut dan kelamin, itu yang kita pilih.***

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (BUKHARI – 6015).

Oleh : Yunus Suryawan,S.STP,M.Si.


Go to top