bawangDalam waktu dekat, Kabupaten Grobogan bakal dijadikan pusat perbenihan bawang merah skala nasional. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah Prihasto Setyanto saat menghadiri acara temu lapang inovasi teknologi perbenihan bawang merah di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Sabtu (10/12/2016).

Acara temu lapang yang dilangsungkan di areal pengembangan bawang merah BPTP di Desa Penawangan juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni. Hadir pula, Asisten II Dasuki, Kepala Dipertan TPH Edhie Sudaryanto, dan anggota Komisi A DPRD Grobogan Sri Setyowati.
Menurut Prihasto, dipilihnya Grobogan sebagai sentra perbenihan bawang merah bukan tanpa alasan. Salah satu pertimbangannya, petani di Grobogan sejauh ini sudah berhasil menorehkan hasil yang boleh dibilang sensasional karena bisa mengembangkan komoditas bawang merah melalui sistem true seed of shallot (TSS). Yakni, cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen sebelumnya.
“Uji coba penanaman bawang merah memakai metode TSS sudah dilakukan di beberapa daerah. Namun, hasil terbaik didapat dari petani di Grobogan dan keberhasilan ini pantas mendapat apresiasi tinggi,” ungkapnya.
Dijelaskan, hasil panen bawang merah melalui metode TSS yang lazim disebut umbi mini itu nantinya tidak dijual untuk konsumsi. Tetapi, digunakan sebagai benih untuk ditanam lagi di areal yang lebih luas.
“Umbi mini yang dihasilkan dari TSS ini kualitasnya masih murni dan belum terkontaminasi banyak penyakit. Makanya, hasilnya dipakai untuk benih unggul. Setelah ditanam kedua kalinya, hasilnya baru digunakan untuk konsumsi,” jelasnya.
Penanaman model TSS itu merupakan sebuah langkah terobosan untuk menjaga produksi bawang merah secara nasional. Upaya itu dilakukan lantaran di daerah sentra bawang merah, seperti Kabupaten Brebes sudah mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini lantaran umbi bawang merah yang dijadikan benih petani banyak mengandung penyakit.
“Kalau benihnya sudah ada penyakit maka ketika tumbuh tidak bisa maksimal lantaran rentan hama pada tanaman. Untuk itu, petani akhirnya terpaksa menggunakan pestisida berlebihan untuk menekan hama penyakit,” terang Prihasto.
Masih dikatakannya, selama ini, pihaknya sudah beberapa kali memberikan pembinaan dan pelatihan pada petani di Grobogan untuk mengembangkan bawang merah lewat TSS. Kali, ini, pihaknya juga membuat areal pengembangan sekitar 1 hektar, dengan inovasi teknologi terbaru yang dipadukan dengan cara pengendalian hama terpadu dan ramah lingkungan.
“Media penamanam untuk membuat perkecambangan biji bawang merah kita pakai limbah khusus yang bisa dibuat dengan mudah dan biayanya murah. Setelah kecambah tumbuh hingga usia 30-40 hari, bisa langsung dipindahkan ke lahan bersama media tanamnya,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Sri Sumarni merasa bangga dengan dipilihnya Grobogan sebagai salah satu sentra perbenihan bawang merah nasional. Menurutnya, sejauh ini, sebagian petani dibeberapa kecamatan memang mulai melirik komoditas bawang merah sebagai selingan tanaman jagung, kedelai dan padi.
“Areal bawang merah disini sekitar 700 hektar yang tersebar dibeberapa kecamatan. Kalau nantinya jadi sentra perbenihan bawang merah tentu merupakan kebanggaan kita bersama,” katanya. DNA

Go to top