padi_3Jumlah dan pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi merupakan prioritas utama dalam mengembangkan pertanian Indonesia, khususnya pangan.  Dengan adanya dinamika di tingkat global akibat dari perubahan iklim, kelangkaan energi serta finansial, telah merubah gagasan bahwa masalah pangan tidak dapat dipecahkan dengan hanya memperbaiki sistem distribusi pangan global, tetapi masing-masing negara harus memperkuat ketahanan pangannya.

Dalam upaya mencapai kedaulatan pangan, pembangunan pertanian saat ini dihadapkan ke dalam berbagai tantangan yang harus dihadapi bersama.

Bagi Kabupaten Grobogan, Sektor Pertanian merupakan sektor primer yang amat strategis, karena memberi kontribusi 43,6% dari PDRB Kabupaten Grobogan setiap tahun. Dengan demikian pendapatan perkapita masyarakat Kabupaten Grobogan amat tergantung pada keberhasilan Sektor Pertanian. Terdapat 7 (tujuh) komoditas utama yang menjadi tulang punggung pendapatan masyarakat di Kabupaten Grobogan, yaitu: padi, jagung, kedelai, kacang hijau, semangka , melon serta ternak sapi.

Meskipun sektor ini sangat tergantung pada kondisi cuaca dan iklim, namun hal ini bukanlah alasan untuk tidak bisa mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Banyak cara yang masih bisa diusahakan untuk mencapainya, mulai dari yang disebut intensifikasi hingga ekstensifikasi pertanian, Inilah yang akan membuat sektor tanaman pangan kita serasa the never ending story.

Komoditas tanaman pangan terus menjadi bahan perbincangan yang tidak akan pernah ada habisnya,layaknya sebuah cerita bersambung yang tiada akhir. Hal ini sangat bisa dimaklumi, karena komoditas ini begitu erat kaitannya dengan urusan perut dan hidup ratusan juta penduduk negeri ini. Sehingga tidak jarang pula komoditas ini dijadikan isu hangat di tengah hingar bingar dunia perpolitikan Daerah dan Nasional.

Terlepas dari semua itu, yang namanya tanaman pangan, tetaplah menjadi komoditas yang memiliki porsi terbesardan peran terpenting yang tidak akan pernah habis kisah dan ceritanya. Setiap geliatnya akan selalu menarik perhatian banyak pihak, terlebih jika menyangkut gejolak harga dan ketersediaan stoknya.

Petani Grobogan saat ini tengah memasuki Musim Tanam ke Dua (MT II) tahun 2013. Salah satu program yang dilaksanan Dinas Pertanian adalah Gerakan Percepatan Pengolahan Tanah pada bulan Maret yang lalu serta optimasi Posluhdes dalam mendampingi petani dalam mengatasi berbagai permasalahan pertanian. Melalui gerakan ini diharapkan pemanfaatan lahan bisa lebih optimal, karena kelak petani masih mempunyai waktu yang cukup untuktanam palawija pada musim kemarau (MT III) misalnya menanam kacang hijau atau kedelai.

Berdasarkan angka sementara tahun 2012, produksi beberapa komoditas strategis adalah sebagai berikut:

  1. Produksi padi mencapai 628.569 ton pada luas area 109.867 ha.
  2. Produksi jagung sebanyaj 575.614 ton pada luas panen 100.332 ha.
  3. Produksi kedelai sebanyak 65.755 ton pada luas panen 27.170 ha.
  4. Produksi Kacang hijau mencapai 25.829 ton pada luas area 22.385 ha.
  5. Produksi Semangka mencapai 8.486 ton pada luas area 457 ha .
  6. Produksi Melon mencapai 8.280 ton pada luas area 429 ha.

Pada periode Januari-Februari Tahun 2013, telah berhasil dipanen padi seluas 50.214 ha, dengan produktivitas rata-rata 7,37 ton per ha.

Keberhasilan Pembangunan Pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya manusia yang mumpuni, tetapi juga harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana pertanian yang memadai.

Salah satu sarana pertanian yang saat ini sedang banyak dibicarakan para petani adalah Combine Harvester sebuah alat yang sangat efektif dan fungsional untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja pada saat panen raya, menekan kehilangan hasil, mempercepat waktu panen, meningkatkan kualitas hasil dan menekan biaya panen. Saat ini sudah teralokasi bantuan sebanyak 4 (empat) unit Combine Harvester dari Kementrian Pertanian. Jumlah 4 Unit tersebut tentunya masih jauh dari mencukupi untuk menangangi areal panen padi di Kabupaten Grobogan yang setiap tahun rata-rata mencapai 109 ribu ha. Oleh karenanya petani masih sangat mengharapkan bantuan alat kerja sejenis untuk waktu mendatang.

Khusus untuk tanaman kedelai, jenis kedelai yang ditanam petani adalah kedelai Varietas Grobogan. Varietas ini berasal dari seleksi populasi kedelai lokal yang kemudian telah dilepas menjadi varietas unggul nasional pada tahun 2008. Kedelai jenis ini memiliki keunggulan, yaitu berumur sangat pendek (76 hari); ukuran polong besar (18 gram per 100 biji), produksi tinggi (rata-rata hasil 2 ton per ha), dan kandungan protein tinggi (43,9%) lebih tinggi dibanding kedelai impor. Itulah sebabnya permintaan benih kedelai Varietas Grobogan dari waktu ke waktu semakin meningkat, baik di wilayah Jawa maupun luar Jawa.

Harga beli dan regulasi yang berpihak kepada petani, serta keseriusan pemerintah dalam mengembangkan sektor pertanian menjadi kunci utamanya. Disamping itu, jumlah penduduk yang terus bertambah secara signifikan juga menuntut pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup dan berkelanjutan.

Tentunya hal itu bisa dijadikan sebagai salah satu “penyemangat” dalam upaya menggenjot produksi pangan di Indonesia, khususnya bagi para petani. Bagaimanapun, mereka lah ujung tombak pencapaian swasembada dan kedaulatan pangan negeri ini. (Ridlwan)

 

 

Go to top