panen bawang brooDinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortulkutura (Dipertan TPH) Grobogan menorehkan hasil yang membanggakan setelah berhasil mengembangkan penanaman komoditas bawang merah melalui sistem true shallot seed (TSS). Yakni, metode penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen.

Pengembangan bawang merah dengan cara TSS itu dilakukan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortulkutura (Dipertan TPH) Grobogan bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng. Adapun kelompok tani Margo Soto di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo dipercaya untuk mengembangkan budidaya bawang merah dengan metode baru tersebut.

Penanaman bawang merah yang dilakukan kelompok tani tersebut sudah dimulai sejak bulan April lalu. Pada hari Kamis (30/7) dilakukan panen di lokasi dempot yang total arealnya seluas 4 x 25 meter. Ada tiga varietas bawang merah yang ditanam dengan biji. Yakni, varietas Tuktuk, Bima, dan Trisula dengan hasil ubinan rata-rata sebanyak 5 kilogram per meter persegi.

“Uji coba penanaman bawang merah memakai metode TSS sudah dilakukan beberapa kali. Namun, baru di Grobogan ini yang berhasil dengan baik dan keberhasilan ini pantas mendapat apresiasi tinggi,” ungkap Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng Moh Ismail Wahab didampingi Kepala Dipertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto saat menghadiri panen bawang merah di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo tersebut.

Menurut Wahab, penanaman model TSS itu merupakan sebuah langkah terobosan untuk menjaga produksi bawang merah secara nasional. Upaya itu dilakukan lantaran di daerah sentra bawang merah, seperti Kabupaten Brebes sudah mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi, lantaran umbi bawang merah yang dijadikan benih petani banyak mengandung penyakit.

“Kalau benihnya sudah ada penyakit maka ketika tumbuh tidak bisa maksimal lantaran rentan hama pada tanaman. Untuk itu, petani akhirnya terpaksa menggunakan pestisida berlebihan untuk menekan hama penyakit,” jelasnya. DNA

 

 

Go to top