|
Pasar pagi yang saat ini lokasinya menempati area ruang terbuka tempat pangkalan dokar/andong di Jl. Ahmad Yani, Jl. Soponyono dan depan Pasar Induk Kota Purwodadi yang beroperasi dari pukul 08.00 malam hingga pukul 08.00 pagi akan segera direlokasikan ke tempat lain.
Adapun lokasi yang disediakan Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk relokasi pasar pagi menjadi pasar hortukultura adalah di Jl.Gajah Mada pada cébela selatan ruas jalan arah ke Terminal Purwodadi. Lahan seluas ± 3 H dengan alokasi anggaran 6 milliar lebih saat ini telah dimulai pada tahapan pembangunan fisik fondasi ingá pemasangan pembetonan. Pekerjaan pembuatan los-los pasar serta fasilitas lainyya secara bertahap akan rampung akhir tahun 2010. Sebagaimana kita ketahui bahwa keberadaan pasar pagi memang berada pada jalur jalan menuju pusat kota. Dan bahkan banyak para pedagang yang mengelar dagangannya sampai separoh bahun jalan, sehingga keberadaannya mengganggu lalulintas pada jam-jam ramai diatas jam 07. keatas yang akan menuju jalur kota. Selain itu apabila dicermati keberadaan pasar pagi memang masih sangat jauh dari sebuah pasar yang memenuhi syarat. Dilihat dari kondisi fisik belum ada tempat permanen dan masih menggunakan tiga ruas jalan yaitu Jalan Ahmad yani, Jalan Soponyono dan depan pasar induk. Pada setiap malam hingga pagi diperkirakan ± 625 pedagang yang tersebar di tiga ruas jalan tersebut. Adapun jenis dan daerah asal produk hortikultura berasal dari luar kota seperti Kabupten Semarang, Salatiga, Boyolali, Solo, Malang, dan Kediri jenis produk hortikultura seperti buncis, kubis, wortel, dan Onclang. Dari Kabupaten Grobogan sendiri seperti kangkung, bayam, tomat, kacang panjang, terong, bawang merah,cabe, gori,labu, gambas, kecambah dll. Sedangkan jangkauan pemasarannya sampai ke Kabupaten Demak (Karangawen, Mranggen), Semarang, Kendal, Pekalongan, Blora, Cepu, Jepara, Kudus dan bahkan sampai ke beberapa daerah Propinsi Jawa Timur. Dari segi administrasi, di pasar pagi bersifat tradisional dan belum tertata secara baik seperti laporan pendapatan dan belum adanya pembuatan denah dan monografi pasar pagi secara permanen. Sarana dan prasarana penunjang lainnya seperti tempat yang digunakan sebagai bongkar muat belum ada. Sistem perputaran keuangan dan jaminan perbankan belum ada sehingga pedagang mengambil hutang dengan rentenir. Fasilitas lainnya kantor pasar, arial parkir, MCK, peralatan pemadam kebakaran dan hidran belum ada. Dari beberapa gambaran diatas, dapat ditarik analisis bahwa pasar pagi merupakan pasar hortikultura yang belum dikelola dengan baik padahal mempunyai potensi untuk dikembangkan dan menambah pendapatan asli daerah dimana jumlah pedagang tetap berjumlah 625 orang belum lagi ditambah pedagang yang tidak tetap. Sedangkan produk agro hortikultura berasal dari berbagai daerah baik dari dalam daerah, luar daerah bahkan dari provinsi Jawa Timur. Untuk Sarana dan prasarana belum ditunjang sama sekali oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Grobogan sehingga masih menggunakan fasilitas umum seperti jalan, trotoar dan emperan toko. Apabila dilihat dari segi letak geografis Kabupaten Grobogan sebagai penghubung antar kota baik dari Kota solo, Kabupaten Demak (Karangawen dan Mranggen), Kabupaten Blora dan Kabupaten Jepara. Apalagi ditunjang sebagai daerah pertanian khususnya hortikultura setidaknya menjadi perencanaan tersendiri sebagai faktor penunjang Kabupaten Grobogan dalam merelokasi keberadaan pasar pagi menjadi pasar hortikultura. Melihat potensi daerah Kabupaten Grobogan baik dari segi letak geografis, produk unggulan, dan potensi pasar pagi tersebut. Maka perlu merealisasikan suatu kebijakan dengan membangun atau merelokasi pasar hortikultura dengan dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai sehingga diharapkan dapat mengatasi permasalahan transportasi, dapat menjadi penyalur hasil agro hortikultura baik dalam kota maupun luar kota dan dapat menambah pendapatan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menambah lapangan pekerjaan. ( LMJ) |