|
Kebutuhan pupuk bisa dipastikan meningkat jelang awal musim tanam pertama (MT I) tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, keutuhan pupuk petani selalu meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Data Dinas Petanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinpertan TPH) Kabupaten Grobigan menyebutkan, Kebutuhan pupuk untuk petani di Kabupaten Grobogan pada Oktober ini, bertepatan dengan awal musim tanam pertama (MT I), mencapai 10.534 ton. Jumlah ini untuk memenuhi lebih dari 50 ribu hektare total luas lahan padi di kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah itu. Meski saat ini petani belum melakukan pemupukan, namun ada kekhawatiran jika pupuk menghilang saat nanti mereka benar-benar membutuhkan. Pujo, 39 , petani di Kecamaam Toroh, Kabupaten Gobogan mengatakan, pihak Pusri dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinpertan TPH) setempat, diharapkan mampu mengamankan stok pupuk agar tak terjadi kelangkaan. “Termasuk mengamankan harga pupuk di tingkatan pengecer. Sebab permintaan nanti akan melonjak tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya” harapnya. Kepala Pemasaran Pusri Kabupaten Grobogan Hendro Winoto menyebutkan, stok pupuk di gudangnya hingga awal Oktober lalu masih aman. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan petani pada awal MT I ini hingga Desember mendatang. “Stok kita saat ini ada 11 ribu ton yang disimpan di gudang Depok sebanyak 9 ribu ton, ditambah di Gudang Nglejok ada 2 ribu ton,” bebernya. Jumlah ini, lanjut dia, akan terus ditambah hingga Desember mendatang. Data Dinpertan TPH menyebtukan, kebutuhan pupuk pada November mendatang mencapai 9.213 ton dan Desember sebanyak 5.051 ton. “Kita upayakan untuk memenuhi kebutuhan pupuk hingga akhir tahun ini. Saat ini pun kita masih menunggu tambahan stok dari Semarang,” ujarnya. Terkait kekhawatiran petani jika pupuk bakal menghilang saat petani membutuhkannya nanti, Hendro menjamin hal itu tak akan terjadi. Sebab, pihaknya bersama Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Kabupaten Grobogan, akan terus mengawasi ketersediaan pupuk di lapangan. “Termasuk jika nanti ada penyelewengan distriusi, tentu distributor akan kita tindak tegas, hingga pencabutan izin usaha,” tegasnya. Saat ini, lanjut dia, harga pupuk masih stabil di kisaran Rp 60 ribu per sak (isi 50 kilogram). Dikatakan, belum ada kenaikan harga pupuk, termasuk imbas wacana penghapusan subsisdi pupuk bersubsidi bagi petani oleh DPR RI. “Kami imbau warga untuk tak resah, terlebih wacana tersebut belum disetujui pemerintah. Jadi jangan sampai mencoba menimbun pupuk sehingga merugikan petani lainnya,” ucapnya. (Tim GB) |