|
Bencana kekeringan kembali terjadi di Kabupaten Grobogan. Daerah paling banyak mengalami kekeringan berada di bagian timur wilayah Kabupaten Grobogan, mulai dari Wirosari, Ngaringan, Kradenan, Gabus, Pulokulon dan Geyer.
Dari 19 kecamatan yang ada di kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah itu, penduduk yang bermukim d Kecamatan Pulokulon hampir setiap tahun mengalami dampak kekurangan air bersih terparah. Bahkan, hingga awal Oktober ini, sumber mata air masih kering, meski beberapa kali hujan telah turun. Camat Pulokulon Muhammad Arifin mengungkapkan sebanyak 13 desa yang ada di Kecamatan Pulokulon, hampir seluruhnya dilanda kekeringan. Imbasnya, lebih dari 70 ribu jiwa warga Pulokulon, kekurangan air bersih. “Pada puncak musim kemarau seperti ini, embung maupun sumur banyak yang sudah mengering,” tuturnya. Ia menambahkan, warga bahkan ada yang harus menempuh jarak cukup jauh sekedar untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya. “Bagi yang punya uang, warga memilih membeli air bersih dari mobil tangki air milik perorangan maupun swasta dengan harga yang cukup tinggi,” jelasnya. Kondisi ini, lanjut dia, bukannya tak dicarikan pemecahannya. Disebutkan, sebenarnya setiap tahun ada bantuan yang dikucurkan ke pemerintah desa, seperti bantuan PNPM dan sebagaianya. Hanya saja, selama ini bantuan tersebut lebih difokuskan untuk perbaikan jalan. “Saya selalu memberi masukan agar dana tersebut digunakan untuk membangun jaringan instalasi air,” katanya. Terlebih di kecamatan yang terletak di sebelah timur Purwodadi itu terdapat sumber mata air Sendang Coyo, di mana airnya bisa dialirkan ke desa-desa yang mengalami kekeringan. Hanya saja, pihaknya mengaku tak bisa lebih jauh mengatur penggunaan dana bantuan tersebut. “Meski demikian, beberapa desa memang sudah mulai memikirkan hal ini,” ujaranya. Karena persoalan krisis air bersih hingga kini masih belum terselesaikan, pihaknya tetap meminta Pemkab setempat untuk membantu dropping air bersih kepada warganya. “Meski sedikit, dropping air bersih setidaknya bisa membantu warga untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya,” katanya. Sementara itu, Kabag Kesra Pemkab Grobogan Nur Syahid melalui Kasubag kesejahteraan FX Gintono Bedjo menjamin bantuan air bersih tetap diberikan ke warga hingga awal Oktober mendatang. Rencananya, bantaun air bersih baru dihentikan jika telah turun hujan dan debit air di embung sudah banyak. “Hanya saja, karena jumlah bantuan terbatas, dalam sehari hanya sebanyak 21 truk tangki air untuk tujuh desa yang bisa kami salurkan,” ungkapnya. (Tim GB) |