|
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Grobogan membawa dampak buruk bagi tanaman palawija, khususnya jagung. Akibat suaca panas dan kekurangan air, sebanyak 1.732 hektare tanaman jagung di wilayah Kabupaten Grobogan mengalami puso. Tragisnya, ini terjadi justru menjelang musim panen jagung tahun ini.
Akibatnya, petani yang sebagian besar tinggal di wilayah timur Kabupaten Grobogan, gagal memetik hasil jagung yang telah ditanamnya itu. Data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinpertan TPH) Grobogan menyebutkan, luasan lahan jagung yang mengalami puso tersebar di empat kecamatan. Empat kecamatan tersebut masing-masing Kecamatan Kradenan 370 hektare, Wirosari 450 hektare, Geyer 390 hektare dan yang paling luas berada di Kecamatan Toroh, seluas 522 hektare. Di luar itu, ratusan hektare tanaman jagung kini juga mengalami kerusakan mulai tingkat ringan, sedang hingga berat. Kepala Dinpertan TPH Muhammad Sumarsono mengatakan, jumlah tanaman jagung yang kini mengalami kerusakan akibat kekeringan mencapai 11.183 hektare. Dari jumlah itu, yang mengalami kerusakan ringan sebanyak 4.926 hektare, sedang 3.552 hektare dan berat 3.705 hektare. “Hanya saja hingga kini tanaman padi yang mengalami kerusakan ini masih bisa diselamatkan,” katanya. Terlebih, lanjut dia, tanaman jagung yang mengalamai keruskaan itu, kini sudah memasuki masa panen. Ia menambahkan, tanaman jagung tersebut mengalami keruskaan akibat cuaca panas dan kurangnya pasokan air untuk mengocori tanaman jagung tersebut. “Akibatnya, daun tanaman menjadi kering dan jagung mengalami kerusakan. Kami berharap lahan jagung yang puso tak meluas,” terangnya. Meski mengalami puso dan ancaman kerusakan akibat kekringan. Sumarsono yakin ini tak mempengaruhi target hasil panen jagung di seluruh wilayah Kabupaten Grobogan. Bahkan, lanjut dia, kabupaten lumbung pangan itu kini telah mengalami surplus produksi jagung. Disebutkan, dari luas lahan panen 93.716 hektare, mampu diproduksi jagung sebanyak 511.761 ton. “Jika kebutuhan jagung di Kabupaten grobogan hanya sebanyak 23.886 ton, sambung dia, kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah itu masih surplus produksi sebanyak 385.523 ton,” bebernya. (Tim GB) |