Dalam pelaksanaan tugasnya guru perlu berusaha meningkatkan kualitas pembelajarannya sebagai langkah pencapaian tujuan pendidikan. Berbagai usaha pengembangan mutu pendidikan perlu dilakukan, yaitu di antaranya dengan menggunakan dasar-dasar sebagai berikut Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Undang-undnag ini dalam pasal 31 ayat (4) dituturkan, setiap tenaga kependidikan untuk meningkatkan kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan suatu bangsa.

Dari dasar tersebut dapat dikembangkan agar setiap tenaga kependidikan perlu berusaha meningkatkan kemampuan profesionalisme guna menuju perwujudan pengabdian yang lebih optimal dalam dunia pendidikan. Ini semua perlu dilakukan berkenaan dengan kualitas pendidikan yang dirasa perlu pengembangan.

Bicara tentang kuwalitas pendidikan, sebenarnya pendidikan kita semakin lama telah berkembang semakin pesat. Hal itu dibuktikan dengan kemampuan seorang anak di tahun 1970-an pada usia dan atau kelas yang sama dengan anak di masa sekarang, tentu kemampuan anak-anak sebagai hasil pendidikan di masa sekarang dirasa jauh lebih baik terutama dari segi kognitif dan psikomotoriknya. Penguasaan iptek anak-anak sekarang dirasa jauh lebih baik dari pada masa yang lalu. Ini semua tidak lepas dari proses pendidikan formal maupun non formal yang ada.

Read more: Keberadaan MGMP Dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor utama penopang pembangunan di negeri kita. Salah satu ancaman nyata yang dihadapi bangsa ini adalah kerusakan moral. Kerusakan moral hampir terjadi seluruh lapisan masyarakat.Keadaan saat ini sudah sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Dan itu terjadi pada semua level masyarakat. Anak-anak remaja hingga orang dewasa sudah banyak yang terjangkit penyakit ini. Secara disadari maupun tidak disadari kerusakan moral semakin dasyat menyerang generasi muda bangsa ini. Maraknya kenakalan dikalangan remaja, pergaulan bebas, tawuran, miras dan berbagai perilaku menyimpang lainnya merupakan bukti bahwa moral remaja kita sudah rusak. Hal itu dapat kita rasakan secara nyata ditengah-tengah kehidupan kita. Salah satu faktor penyebab menyebarnya kerusakan moral bangsa ini adalah kesalahan dalam mengakses informasi. Kemajuan tehnologi justru menambah cepatnya virus ini menjalar ditengah masyarakat kita. Teknologi informasi yang semula dibuat untuk memudahkan, tetapi dibalik itu tersimpan bahaya yang mengancam masa depan anak-anak kita.Kebebasan informasi yang saat ini dinikmati bangsa ini di satu sisi sangat bermanfaat dalam meningkatkan kecerdasan masyarakat, namun disisi lain penyebaran informasi negatif yang mengakibatkan kerusakan moral bangsa ini juga tidak terkendali. Kenyataan itu tidak dapat dipungkiri. Ini akibat masih amat kurang mampunya masyarakat kita dalam menghadapi derasnya arus globalisasi, transformasi dan informasi yang kini bebas tanpa hambatan masuk ke negeri ini.Tentu kita tidak   diam terhadap persoalan ini. Kerusakan moral adalah kemunkaran yang harus segera ditangani. Jika tidak, maka akan hancurlah kehidupan manusia.

Read more: Peningkatan kualitas SDM dengan perbaikan Moral

Kepemimpinan merupakan kajian yang sangat menarik dan penting, dimana dari waktu ke waktu kita akan dihadapkan dengan isu kepemimpinan, baik dalam skala kecil seperti memilih pemimpin keluarga, dalam skala sedang memilih pemimpin di tingkat desa maupun dalam skala global memilih presiden dan wakilrakyat. Kepemimpinan juga menjadi semakin penting dibahas disebabkan dalam kehidupan ini akan berkaitan dengan pemimpin yang ada baik pemimpin rumah tangga maupun pemimpin pemerintahan, terlebih lagi pemimpin memiliki otoritas untuk melakukan / memutusakan sesuatu maupun untuk tidak melakukan / memutuskan sesuatu yang berkaitan degan kepentingan orang banyak.

      Hampir setiap hari acara dan berita di media massa maupun di jagongan warung makan membicarakan para pemimpin kita yang saat ini begitu ramai dengan isu isu positif seperti terobosan / inovasi kepala daerah maupun isu-isu negatif seperti kasus hukum yang menjerat para pejabat negara ini. Menjelang Pemilu 2014 banyak orang ramai ramai ingin menjadi pemimpin. Agar mereka yang mencalonkan diri menjadi pemimpin mendapat simpati pemilih maka mereka melakukan banyak cara. Baik cara yang benar benar baik maupun cara cara yang seakan akan baik bahkan cara cara yang benar-benar kotor.

Read more: MEMIMPIN TANPA JABATAN DAN GELAR

Pilkades merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi yang begitu merakyat. Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang begitu mengena kalau dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran politik bagi masyarakat. Pada moment ini, masyarakat yang akan menentukan siapa pemimpin desanya selama 6 tahun ke depan. Banyak bentuk pesta demokrasi yang telah digelar dalam kehidupan politik kita sekarang. Pilpres, Pilkada Gubernur, Pilkada Bupati dan Pemilu Legeslatif. Tak ketinggalan adalah Pilkades. Begitu menarik bagi saya untuk mengkaji lebih dalam tentang budaya pemilihan kepala desa ini.

Dalam pelaksanaannya begitu mendetail keterkaitan antara pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaannya. Sehingga, perlu ketelitian dari tiap calon pemilih dalam menilai calon pemimpin yang akan dipilihnya tersebut. Namun pilkades terasa lebih spesifik dari pada pemilu-pemilu di atasnya. Yaitu adanya kedekatan dan keterkaitan secara langsung antara pemilih dan para calon. Sehingga, suhu politik di lokasi sering kali lebih terasa dari pada saat pemilu pemilu yang lain. Pengenalan atau sosialisasi terhadap calon-calon pemimpin bukan lagi mutlak harus lagi penting. Para bakal calon biasanya sudah banyak dikenal oleh setiap anggota masyarakat yang akan memilih. Namun demikian sosialisasi program atau visi misi sering kali tidak dijadikan sebagai media kampanye atau pendidikan politik yang baik. Kedekatan pribadi, akan sering kali banyak dipakai oleh masyarakat untuk menentukan pilihannya. Di sini unsur nepotisme masih begitu kental membudaya. Demikian juga dengan kolusi, hubungan baik dalam berbagai posisi juga banyak dijadikan sebagai unsur penentuan hak pilih. Demikian juga dengan unsur Money politik yang sering dijadikan iming-iming dorongan dalam pemilihan. Hal demikian akan menjadikan para calon harus mengeluarkan biaya yang begitu besar. Persaingan antar calon sering kali juga terjadi dengan berlebihan. Kalau demikian ini yang terjadi usaha penghapusan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme ) akan terasa sulit diwujudkan. Di sini pendidikan politik perlu dikembangkan. Kerelaan berkorban untuk kepentingan desa yang juga merupakan bagian dari bangsa dan negara ini tentu perlu diwujudkan. Tidak semua pengorbanan harus diukur dengan kontribusi uang. Kalau budaya maney politik di tingkat desa bisa dikikis, tentu sedikit demi sedikit di tingkat yang lebih atas hingga pemilihan presiden akan dapat diwujudkan proses pemilihan pelaksana pemerintahan yang jujur dan adil.

Read more: Pilkades dan Pembelajaran Politik

Go to top