Perkembangan pembangunan kesehatan di Kabupaten Grobogan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan menyeluruh yang dekat dengan masyarakat. Kondisi sarana dan prasarana pelayanan kesehatan tahun 2016 secara rinci seperti pada tabel berikut :

Tabel Kondisi Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Tahun 2016

kesehatan 1

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Grobogan.

Adapun indikator keberhasilan pembangunan kesehatan dapat diukur dengan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Balita (AKABA), dan Prevalensi Gizi Buruk Balita. Perkembangan AKB, AKI, AKABA, dan prevalensi gizi buruk pada balita tahun 2013 sampai tahun 2016 seperti pada tabel berikut :

Tabel Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Balita dan Prevalensi Gizi Buruk Kabupaten Grobogan Tahun 2013 – 2016

kesehatan 2 

sumber : Dinas Kesehatan Kab. Grobogan.

 

Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi (AKB) merupakan banyaknya kematian bayi umur kurang dari 1 tahun (0–11 bulan) per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Angka kematian bayi menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat.

Berdasarkan tabel I.15, AKB di Kabupaten Grobogan tahun 2016 sebesar 17,22/1.000 kelahiran hidup (KH) dan bila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 17,44/1.000 KH, AKB mengalami penurunan. Secara nasional sesuai target sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan Kementerian Kesehatan yaitu 24 per 1.000 KH, AKB di Kabupaten Grobogan masih di bawah angka tersebut. Walaupun telah menunjukkan penurunan, namun bila dibandingkan dengan Indikator Rencana Aksi Daerah Millenium Development Goals (RAD MDGs) Provinsi Jawa Tengah yang ditargetkan sebesar 9,1/1.000 KH, Kabupaten Grobogan belum dapat mencapai target tersebut.

Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka kematian ibu (AKI) dihitung semasa kehamilan, persalinan dan masa nifas yang mempunyai manfaat sebagai gambaran risiko dihadapi oleh ibu selama kehamilan dan melahirkan. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi, keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan, kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetrik.

Kematian ibu adalah kasus kematian perempuan yang diakibatkan oleh proses yang berhubungan dengan kehamilan (termasuk hamil ektopik), persalinan, abortus (termasuk abortus mola) dan masa dalam kurun waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan tanpa melihat usia gestasi. Angka kematian ibu di Kabupaten Grobogan tahun 2016 sebesar 127,19/100.000 kelahiran hidup (KH) dan bila dibandingkan tahun 2015 sebesar 149,92/100.000 KH, angka tersebut juga menunjukkan penurunan. Namun apabila dibandingkan dengan target MDGs sebesar 102 per 100.000 dan target Provinsi Jawa Tengah sebesar 60/100.000 KH, Kabupaten Grobogan belum dapat mencapai target tersebut.

Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Anak Balita (AKABA) adalah kematian anak balita (12 – 59 bulan) per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita mempunyai manfaat untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan anak balita, tingkat pelayanan KIA, tingkat keberhasilan program KIA dan menilai kondisi sanitasi lingkungan.

Angka kematian balita di Kabupaten Grobogan tahun 2016 sebesar 20,17/1.000 KH, lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 18,99/1.000 KH. Selanjutnya bila dibandingkan dengan target MDGs yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup, AKABA di Kabupaten Grobogan masih sesuai target, namun bila dibandingkan RAD MDGs Provinsi Jawa Tengah sebesar 12,01/1.000 KH, RAD MDGs Kabupaten Grobogan Kabupaten Grobogan belum dapat mencapai target tersebut.

Permasalahan AKI, AKB dan AKABA di Kabupaten Grobogan memerlukan usaha keras dan dukungan semua pihak untuk menurunkannya. Upaya yang sudah dilaksanakan antara lain :

  1. Kebijakan persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) sebagai upaya menjamin persalinan dikelola oleh tenaga kesehatan yang terampil dan kompeten dengan ditunjang sarana prasarana yang memadai termasuk kesiapan sistem rujukan.
  2. Pemantauan kinerja klinis untuk pelayanan ibu dan bayi baru lahir pada 10 Puskesmas dengan dukungan Program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) untuk memotivasi agar peralatan dan pelayanan yang diberikan sesuai standar.
  3. Short Massage Service (SMS) bunda yaitu layanan SMS ke Nomor 08118469468 yang secara berkala memberikan pesan kepada ibu dan keluarganya tentang kehamilan dan pasca persalinan serta bayi dan anak umur usia 2 tahun.
  4. Menambah bidan baru untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kebidanan khususnya pada desa yang sulit akses pelayanan kesehatannya.
  5. Meningkatkan ketrampilan teknis kebidanan dan bayi baru lahir bagi dokter pada 30 Puskesmas dan dokter fasilitas pelayanan kebidanan swasta dengan mendapat dukungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Grobogan.
  6. Meningkatkan ketrampilan bidan dalam pelayanan kebidanan dan neonatus yang didukung oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Grobogan dan IDI.

Upaya-upaya yang dilaksanakan dan telah menunjukkan hasilnya ini akan terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

Gizi Buruk

Pendataan gizi kurang dan gizi buruk didasarkan pada 2 kategori, kategori pertama membandingkan berat badan dengan umurnya (BB/U) dan kategori kedua membandingkan berat badan dengan tinggi badannya (BB/TB).

Skrining pertama dilakukan di Posyandu dengan kategori pertama yaitu membandingkan berat badan dengan umurnya melalui kegiatan penimbangan. Jika ditemukan kasus gizi kurang/buruk dilakukan perawatan gizi kurang/buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas, dilanjutkan dengan skrining berikutnya yaitu dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badannya, jika ternyata menderita gizi buruk maka dilakukan perawatan sesuai standar sampai di Rumah Sakit.

Prevalensi Balita dengan Gizi Buruk di Kabupaten Grobogan pada tahun 2016 sebesar 0,03%, bila dibandingkan dengan RAD MDGs sebesar < 5% masih sesuai target.

 

Go to top