Menu

pertanian-kabupaten-groboganPertanian lekat dengan Kabupaten Grobogan, kabupaten ini pun dikenal sebagai lumbung padi nasional, bahkan sebagai tempat lahirnya varietas tanaman jenis baru.

Sebagian besar penduduknya (±53%) menggantungkan hidupnya pada bidang pertanian ini, dan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Grobogan juga berasal dari lapangan usaha tersebut. Namun sayangnya, petani di Kabupaten cenderung terfokus pada produksi pertanian saja. Hampir seluruh hasil pertaniannya berlarian ke luar wilayah masih dalam bentuk hasil produksi.

Peningkatan produksi dalam rangka mencapai swasembada pangan semata tentunya kurang menguntungkan, yang akhirnya luput untuk mengembangkan hasil roduksi pertanian yang mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Paradigma yang sempit tentang pertanian tersebut harus digantikan dengan paradigma baru pertanian modern. Kondisi inilah yang saat ini digarap oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Grobogan, untuk merubah paradigma lama menuju paradigma baru pertanian yaitu Agribisnis.

”Dalam lima tahun ke depan Kabupaten Grobogan akan lebih fokus pada pengembangan agrobisnis. Tujuannnya meningkatkan pendapatan petani serta peningkatan produktivitas hasilnya,” kata Kepala DPTPH Edhie Sudaryanto.

Hal ini diartikan nantinya masyarakat petani memiliki kegiatan pertanian berkelanjutan. Dimana mereka tidak lagi berhenti dengan memetik hasil produksi dan lantas menjualnya begitu saja. Tetapi mereka akan mencoba menciptakan produk baru dari hasil produksi pertaniannya.

”Sebagai contoh hasil jagung, bisa diubah menjadi bahan makanan kecil. Atau diubah menjadi menjadi barang lainnya yang berbahan baku dari jagung. Dengan begitu akan muncul sektor usaha lainnnya yang dapat mendukung kontinuitas produksi pertanian,” jelasnya

Berdasarkan cara pandang baru diatas, jelaslah bahwa setiap komoditi pertanian mempunyai suatu sistem agribisnis yang terdiri dari berbagai subsistem fungsional yang terintegrasi satu sama lain secara vertikal.

Hubungan antara sektor pertanian dengan sektor industri pun menjadi sangat erat dan saling tergantung satu sama lain dalam paradigma diatas. Agribisnis mencakup seluruh kegiatan di sektor pertanian dan sebagian dari sektor industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian (Agroindustri Hulu) dan mengolah hasil-hasil pertanian (Agroindustri Hilir).

Berangkat dari kondisi tersebut, petani Grobogan dengan dukungan pihak lainnya harus mulai bersiap menyusun sebuah kerangka dasar pembangunan pertanian yang kokoh dan tangguh untuk menuju agribisnis.

”Artinya pembangunan yang dilakukan harus didukung oleh segenap komponen secara dinamis, ulet, dan mampu mengoptimalkan sumberdaya, modal, tenaga, serta teknologi sekaligus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. (sumber : disarikan dari Radar Kudus, 14/3/2011)

Go to top