rakor kedelai provonsi dpnUpaya untuk meningkatkan produksi kedelai di Jawa Tengah tampaknya akan dilakukan secara serius. Indikasinya, bisa dilihat dengan digelarnya rakor usulan kebutuhan peningkatan produksi kedelai yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Kamis (21/1/2016).

Acara rakor yang diselenggarakan Bappeda Provinsi Jateng itu diikuti 27 kabupaten penghasil kedelai. Selain dari Bappeda, masing-masing kabupaten juga mengirimkan pejabat dari dinas pertanian setempat untuk mengikuti rakor tersebut.

“Acara ini kita gelar untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan sinergi dalam rangka peningkatan produksi kedelai di Jawa Tengah. Melalui rakor ini, kita ingin mendapatkan beragam masukan dan kendala yang dihadapi daerah penghasil kedelai,” ungkap Kabid Perekonomian Bappeda Jateng Sucipto, usai memimpin rakor.

Menurutnya, salah satu upaya penting yang perlu dilakukan adalah merubah mindset petani terhadap kedelai. Dimana, komoditas kedelai saat ini merupakan kebutuhan masyarakat dalam rangka pemenuhan gizi.

Dalam rakor juga terungkap ada beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian. Antara lain, soal harga kedelai yang berkisar Rp 7 ribu per kilo. Dengan harga itu, petani tidak bisa mendapatkan keuntungan sehingga mereka tidak tertarik menanam kedelai lagi.

“Soal harga ini memang jadi salah satu perhatian serius. Kita ingin harga kedelai ini bisa menguntungkan petani tetapi disisi lain jangan sampai memberatkan masyarakat sebagai konsumennya,” terang Sucipto.

Secara garis besar, lanjutnya, ada beberapa hal yang perlu disiapkan dalam rangka meningkatkan produksi kedelai tersebut. Seperti, upaya perluasan lahan, penerapan teknologi, gudang penyimpanan hasil panen hingga pengolahan kedelai pasca panen menjadi beragam makanan dan minuman.

“Banyak sekali masukan yang kita dapatkan dari berbagai daerah. Masukan ini kita perlukan sebagai bahan kajian untuk pembuatan grand design pengembangan kedelai di Jawa Tengah,” jelas Sucipto. DNA