kunker DPRDJatemgAnggota komisi B DPRD Jateng bersama pejabat Distanbun Jateng melangsungkan kunjungan kerja di Grobogan, Rabu (1/8/2018). Agendanya, melihat lokasi ujicoba penamaman padi varietas PIM 1 milik Saputro Wicaksono di Dusun Jatipeting, Desa Rowosari, Kecamatan Gubug serta menyerap aspirasi petani setempat.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo selaku pimpinan rombongan menyatakan, meski hasilnya belum terlihat, namun langkah Saputro Wicaksono dalam mencoba menanam varietas baru itu perlu diapresiasi. Sebab, upaya itu dinilai merupakan sebuah gebrakan perubahan untuk meningkatkan hasil pertanian dan ketersediaan pangan.

“Untuk melakukan ujicoba seperti ini butuh sebuah keberanian karena ada resiko besar jika sampai gagal. Untuk itu perlu ada evaluasi dan proses penelitian untuk melihat kekurangan dan kelebihan yang ada,’’ katanya. Untuk meningkatkan ketersediaan pangan, lanjut Yudhi, salah satunya adalah menyediakan inovasi varietas. Yakni, pemerintah harus bisa menyiapkan varietas padi yang unggul, tahan hama, umur pendek dan hasil panennya banyak.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengatakan, padi varietas PIM 1 masih tahap ujicoba dan belum dilepas oleh Kementrian Pertanian. Menurutnya, pertumbuhan tanaman belum konsisten karena masih tahapan ujicoba. Untuk hasil tanaman padi varietas PIM 1 yang diperkirakan hingga tiga kali lipat, nantinya masih perlu dibuktikan.

Edhie berharap agar Saputro melakukan seleksi lagi peranakan dari varietas padi yang sudah ditanam tersebut. Nantinya, hasil seleksi akan bisa ditanam lagi dan diajukan untuk mendapatkan sertifikasi.

“Saat ini, proses untuk memunculkan vareitas lokal yang tersertifikasi tidak sulit. Pengajuannya hanya sampai di tingkat provinsi saja,” kata Edhie yang ikut mendampingi kunjungan kerja itu.

Sementara itu, kondisi padi yang ditanam Saputro secara fisik memang berbeda dengan tanaman sejenis yang ada di sekitarnya. Tanaman padi batanynya kokoh dan tingginya hampir mencapai 2 meter. Padi yang ditanam ini sementara diberi label varietas PIM 1. PIM itu merupakan singkatan dari Petani Indonesia Menggugat. Beberapa waktu sebelumnya, padi jenis ini sempat ditanam oleh petani di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

“Saya mendapatkan benih padi pada April lalu dari seorang teman yang tinggal di Jawa Timur. Kemudian, benih sebanyak 10 kilogram itu saya tanam pada tanggal 1 Mei lalu. Oleh petani, padi jenis ini dinamakan padi purba atau padi raksasa. Beberapa hari lagi, padi ini siap panen,” kata Saputro.

Selain ukurannya yang tinggi, padi ini punya kelebihan lainnya. Seperti memiliki umur pendek, sekitar 90 - 95 hari. Selain itu, padi varietas PIM 1 ini memiliki kisaran 600 hingga 700 bulir per tangkainya. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan padi varietas lainnya yang hanya punya 200 hingga 215 bulir per tangkainya.

Padi raksasa tersebut ditanam Saputro di lahan seluas 2.500 meter persegi. Dari awal hingga saat ini, padi tersebut bisa tumpuh normal. Meski demikian, ada sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan kondisi tanaman yang di Blitar.

“Perbedaan dari yang ditanam di Blitar ada pada tinggi tanaman. Tanaman milik saya sedikit lebih rendah dibandingkan yang di Blitar. Tapi untuk jumlah bulirnya hampir sana. Barangkali ini pengarus cuaca di sini yang lebih panas dan kandungan unsur hara dalam tanahnya berbeda,’’ jelasnya.