wayangkominfo18Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melangsungkan pentas wayang kulit di Alun-alun Purwodadi, Grobogan, sabtu (18/8/2018) malam. Pagelaran wayang kulit ini diselenggarakan kementerian Kominfo sebagai salah satu sarana untuk melakukan sosialisasi periaku hidup bersih dan sehat dalam menurunkan prevalensi stunting.

Pegelaran wayang kulit ini dibuka Sekda Grobogan Moh Sumarsono. Hadir pula, Kasubdit Kemitraan Lembaga Komunikasi Sosial Kominfo RI Sarjono, Kepala Dinkes Grobogan Lely Atasti, Kepala Diskominfo Grobogan Wiku Handojo dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Pagelaran wayang menampilkan lakon Srikandi Yoso Taman dengan dalang Ki Gunawan Guno Karsono dari Sragen.  Kasubdit Kemitraan Lembaga Komunikasi Sosial Kominfo RI Sarjono mengatakan, tahun 2018 ini Pemerintah Pusat telah menetapkan 100 Desa dalam pilot project porgram penurunan prevalensi Stunting di Indonesia. Dari 100 Desa tersebut, sebanyak 10 desa di antaranya berada di Grobogan.

“Maka sesuai Inpres No 9 Tahun 2014, Kominfo memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinir Kementrian Sektoral, dalam rangka membuat kampanye sebuah program tunggal untuk disampaikan pada masyarakat,” jelasnya.

Terkait persoalan Stunting, Lanjut Sarjono, terdapat 13 Kementrian yang terlibat dalam penurunan Prevelensi Stunting dimana Kominfo menjadi corong dalam penyampaian informasi secara luas kemasyarakat terkait apa itu stunting dan bagaimana cara menanganinya.

“Salah satu sarana sosialisasi stunting kita gunakan media tradisional wayang kulit. Perlu diketahui, wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisional yang bisa digunakan sebagai sarana untuk menyosialisasikan program dan kebijakan pemerintah pada masyarakat luas,” katanya.

Sementara itu, Sekda Moh Sumarsono mengatakan, penanggulangan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat, melainkan juga menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah serta semua elemen masyarakat. Pasalnya, stunting menimbulkan dampak luas bagi tumbuh kembang generasi dimasa mendatang.

“Saat ini sudah ada kasus stunting di 10 desa yang ada di 5 kecamatan. Totalnya, ada 28 anak yang mengalami stunting. Oleh sebab itu, masalah stunting harus segera ditangani,” katanya.

Ia menjelaskan, kasus stunting ada di Desa Putatsari dan Karangharjo di Kecamatan Grobogan. Kemudian, Desa Termas (Karangrayung), Desa Sindurejo (Toroh), Desa Sidorejo (Pulokulon). Kasus stunting paling banyak terdapat di Kecamatan Geyer yang meliputi lima desa. Yakni, Desa Rambat, Juworo, Geyer, Ledokdawan, dan Karanganyar.

“Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak karena tidak tercukupinya asupan gizi. Yakni, fisik anak terlihat lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya,” katanya.

Sumarsono menyatakan, untuk menekan bertambahnya stunting, salah satunya adalah memberikan penyuluhan pada masyarakat. Yakni, menyampaikan apa itu stunting dan upaya pencegahan yang bisa dilakukan sejak dini. Salah satu media yang digunakan untuk sosialisasi adalah melalui pentas wayang kulit.

“Jadi, pentas wayang kulit ini tadi tidak sekedar hiburan saja. Tetapi ditengah pentas ada dialog tentang stunting yang perlu disampaikan pada masyarakat,” katanya.