Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Grobogan menyelenggarakan kegiatan Bursa Inovasi Desa (BID) yang dilangsungkan di Hotel Grand Master Purwodadi.

Kegiatan BID dibuka Asisten I Muhammad Hidayat mewakili Bupati Grobogan, Rabu (31/10/2018).

Kegiatan BID ini diikuti oleh 1.148 peserta. Terdiri dari kepala OPD, camat, kades, BPD, tokoh masyarakat, tenaga ahli dan pendamping desa serta tim pengendali inflasi daerah.

Asisten I Muhammad Hidayat mengapresiasi kegiatan BID karena dinilai banyak manfaatnya bagi pemerintah desa. Ia berharap agar para kades bisa mencontoh desa-desa yang sudah berhasil melakukan inovasi. Baik dalam bidang pariwisata, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.

“Saya minta agar pada kades terus menggali potensi yang ada di desanya dan selanjutnya dikembangkan biar lebih maju,” kata Hidayat, saat membuka BID.

Sementara itu, Kepala Dispermasdes Grobogan Sanyoto mengungkapkan, kegiatan BID dilakukan dengan maksud untuk melakukan transfer ilmu melalui contoh-contoh dan menjual informasi kegiatan kreatif inovatif yang dihasilkan oleh masyarakat, kelompok masyarakat dan lembaga. Baik, dari internal di lingkungan Pemkab Grobogan maupun daerah lainnya kepada para kades dan peserta BID agar bisa diserap dan direplikasi di desanya masing-masing.

Sejauh ini, ada beberapa desa yang sudah memiliki kegiatan kreatif inovatif. Desa-desa tersebut kemudian memberikan informasi kegiatan kreatif yang dihasilkan pada kepala desa dan peserta BID.

Dengan mengikuti BID, para kades nantinya diharapkan bisa menjadi lebih berkualitas, kreatif, dan inovatif dalam menyusun perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan. Terutama, perencanaan kegiatan yang dianggarkan dari dana desa.

Menurut Sanyoto, dana desa yang disalurkan ke desa, nilainya selalu meningkat tiap tahun. Selama ini, penggunaan dana desa sebagian besar masih dialokasikan untuk pembangunan fisik saja.

Dalam beberapa tahun kedepan, pembangunan fisik, seperti jalan, dan talud sudah pasti akan berkurang karena sudah diperbaiki pada tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, anggaran yang sebelumnya dipakai untuk pembangunan fisik harus dialihkan untuk membiayai kegiatan kreatif inovatif lainnya .

“Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah bidang pemberdayaan masyarakat. Arahnya adalah pengembangan SDM, ekonomi lokal dan kewirausahaan menuju pengembangan produk. Terkain masalah ini, kami gelar BID agar bisa saling tukar pengalaman,” jelas Sanyoto.