Upaya penanganan sampah sejauh ini terus dilakukan oleh Pemkab Grobogan. Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menghadiri pengukuhan pengurus Bank Sampah Induk ‘Bersemi’ Kabupaten Grobogan, Selasa (6/11/2018).

Menurut bupati, salah satunya adalah membenahi sarana dan prasarana di tempat pembuangan akhir (TPA) Sampah di Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi. Saat ini, lokasi TPA sudah dikelola dengan teknologi dan tempatnya cukup luas.

“Upaya lainnya adalah mendorong semua desa agar punya Bank Sampah. Keberadaan Bank Sampah ini bisa jadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah,” katanya.

Ia menjelaskan, volume sampah yang dihasilkan saat ini sudah mencapai 298 ribu ton per tahun. Sedangkan sampah yang mampu dikelola oleh pemerintah daerah sampai pemrosesan akhir di TPA hanya sebanyak 33.500 ton per tahun atau baru 11,3 persen saja.

“Rendahnya pengelolaan sampah di TPA ini karena keterbatasan sarana angkut sampah dan luasnya sampah yang harus diangkut ke TPA, dari ujung barat Kecamatan Tanggungharjo dan ujung timur Kecamatan Gabus. Peran pemerintah dalam pengelolaan sampah di TPA akan terus ditingkatkan sejalan dengan kemampuan daerah yang makin baik,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini sudah ada 87 Bank Sampah aktif yang tersebar di 68 desa. Adanya Bank Sampah ini, selain mengurangi volume sampah juga mendatangkan pendapatan bagi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nugroho Agus Prastowo mengatakan, adanya Bank Sampah ini sudah mampu mengurangi volume sampah. Sekarang, jumlah sampah yang terkelola meningkat lima sampai enam ribu ton setiap harinya.

Pihaknya memiliki strategi untuk mengurangi permasalahan sampah tersebut, yakni membuat bank sampah atau pengelolaan sampah ditingkat perkampungan, sekolahan, bahkan perkantoran. Jika strategi tersebut sukses, 25 persen sampah di Grobogan dapat terkelola.

‘’Kami menargetkan pada 2019 minimal satu desa ada satu Bank Sampah. Kami harap masyarakat turut serta mengatasi persoalan sampah ini,” ujarnya.

Ketua Bank Sampah Induk Bersemi Eka Sri Prastiwi mengatakan, pengelolaan sampah menjadi tanggungjawab bersama. Masyarakat, pemerintah, dan lembaga bank sampah harus saling bersinergi untuk mengatasi persoalan sampah.

‘’Kami mengajak setiap masyarakat untuk menyetorkan sampah di bank sampah. Lewat bank sampah, sampah yang dikelola tadi bisa menjadi berkah, bernilai rupiah,” ujarnya.