Suasana diklat penulisan ‘Satu Kepala Sekolah Satu Buku’ yang dilangsungkan di Hotel Kyriad Grand Master Purwodadi berubah semarak, Rabu (12/2/2020). Ini menyusul kehadiran Bupati Grobogan Sri Sumarni di lokasi pelaksanaan diklat dengan tujuan untuk memberikan motivasi pada para peserta.

“Pada hari ini, saya menyempatkan waktu datang kesini untuk memberikan motivasi pada semua peserta diklat penulisan. Saya merasa senang karena para peserta punya semangat yang luar biasa untuk bisa menghasilkan karya berupa buku. Sebelumnya mohon maaf karena pada hari pertama atau pembukaan diklat, saya tidak bisa hadir,” kata bupati.

Dalam kesempatan itu, bupati juga melakukan penandatanganan launching beberapa program dari dinas pendidikan. Yakni, gerakan 1.000 penulis Grobogan, tantangan membaca Grobogan 2020, sertifikasi gerakan literasi sekolah, dan penyediaan buku bacaan bermutu.

Menulis itu adalah kemampuan literasi yang dekat dengan dunia guru dan kepala sekolah. Dengan menulis buku maka banyak efek positif yang akan diperolehnya.  Antara lain, efek kedinasan dalam mendukung kenaikan pangkat golongan. Selain itu, dengan menulis buku juga memberikan dampak positif terhadap popularitas, berbagi insiprasi dan ilmu, menyebarkan kebenaran, legacy, dan royalti atau penghasilan.

Ia menambahkan, Grobogan sudah dicanangkan sebagai kabupaten literasi sejak tahun 2016 lalu. Guna memajukan gerakan literasi di Grobogan, sudah banyak upaya yang dilakukan, khususnya dari dinas pendidikan.

“Saya mengapresiasi penyelenggaraan diklat penulisan Satu Kepala Sekolah Satu Buku ini. Melalui inovasi ini, kepala sekolah sebagai pimpinan di satuan pendidikan diharapkan dapat menggerakan dan menggelorakan literasi disekolahnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat menambahkan, penyelenggaraan diklat penulisan itu dilakukan bekerjasama dengan Asosiasi Guru Penulis Grobogan (AGPG) dan Media Guru. Sebelumnya, pihaknya sudah melangsungkan diklat Satu Guru Satu Buku (Sagusabu) dan Satu Siswa Satu Buku (Sasisabu). Hasil diklat ini dinilai berhasil karena pesertanya sudah bisa menghasilkan ratusan judul buku.

Diklat penulisan itu diikuti 865 kepala sekolah dari tingkat TK dan SD. Diklat dibagi dalam tiga gelombang dan akan berlangsung selama enam hari karena banyaknya peserta. Masing-masing gelombang mengikuti diklat selama dua hari.