gropyok tikus 1Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, akhir bulan Oktober lalu mencanangkan gerakan penanggulangan hama tikus secara massal. Pencanangan tersebut dilakukan di Desa Selojari, Kecamatan Klambu. Gerakan itu dilakukan mengingat hama tikus dirasa sudah cukup meresahkan.
Oleh sebab itu, butuh penanganan secara bersama oleh masyarakat. Tidak terbatas oleh petani saja namun juga warga yang tinggal di sekitar kawasan pertanian.

Jika seluruh komponen masyarakat ini bisa kompak maka perkembangan hama tikus bisa ditekan.
"Gropyokan seperti ini harus sering dilakukan. Agar hasilnya maksimal maka pelaksanaannya harus dilakukan secara bersama-sama. Kalau petani yang nggropyok, hanya akan dapat sedikit saja," kata Wabup.
Kepala Dinpertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, salah satu penyebab turunnya hasil panen adalah serangan hama tikus. Sebab, hewan ini menyerang tanaman dalam segala usia. Mulai dari masih berupa bibit di persemaian hingga sudah ditanam di areal sawah.
"Luas areal yang ditanami padi sekitar 16.000 hektare. Sebagian areal sawah saat ini terancam hama tikus," kata Edhie.
Menurutnya, serangan hama tikus ini tergolong cukup cepat. Dimana, pada saat persemaian, tiap ekor tikus bisa merusak sekitar 283 bibit. Kemudian, tikus-tikus kecil ikut memangsa daun muda untuk mengasah gigi-gigi mereka.
"Adanya gropyokan ini tidak memiliki efek samping untuk tanaman. Bahkan, ada manfaat sosialnya, meningkatkan kerukunan dan kebersamaan," imbuhnya.DNA